
Di musim kemarau daunnya berguguran
Mencium genting rumahmu
Aku segan melangkah di halaman
Takut membangunkan tidur siangmu
Dan sukun ini menjadi penjerat kenangan
Penanda kanak menjadi dewasa
Juga anak yang seharusnya rela menjadi budak
Sukun itu lebih tahu
Kenapa rumahmu tak seramai dulu
Mereka yang dilahirkan dari rahimmu
Tak berkunjung, tak mau kembali
Rumahmu tak seindah dulu kata mereka
Lebah di peternakanmu tak lagi bermadu
Sayapnya berserakan
Terpatahkan angin luar yang liar
Suaramu tak didengarnya lagi
Mereka melupakan istana buatanmu
Juga pohon sukun yang kini tumbang
Mati….
Bumi Mangkuyudan, Maret 2010
Miftahul Abrori, mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Surakarta. Aktif di komunitas Thariqat Sastra Sapu Jagad.
Terakhir Diperbaharui ( Senin, 05 April 2010 07:23 )