“Hindarilah dengki karena dengki itu memakan (menghancurkan) kebaikan sebagaimana api memakan (menghancurkan) kayu bakar.” (Abu Daud). |





| Rumah Suamiku |
| Ditulis oleh al-muayyad |
| Rabu, 29 September 2010 09:01 |
|
Cerpen Fatimah Wahyu Sundari Mulai hari ini aku akan tinggal di rumah ini bersama suamiku. Tak kusangka aku akan tinggal di rumah joglo di pedesaan dengan orang terhangat yang baru kali ini kutemui. Aku merasa asing di rumah ini. Entah mengapa firasatku mengatakan aku tidak akan lama di rumah baruku. Meski sebenarnya aku merasa nyaman di rumah suamiku. Ibu mertuaku mempersilahkanku untuk masuk ke kamar yang terletak di ruangan paling depan. Aku rasa aneh kamar tidur terletak di ruang paling depan. Aku lihat ruang depan atau sebut saja ruang tengah itu terdiri dari dua kamar tidur yang terpisah oleh ruang tamu dan disebelah pojok aku melihat ruang makan. Seorang gadis kecil, kira-kira usia tujuh tahun, datang menghampiriku. Ia membawa segelas minuman dan sepiring buah semangka yang sudah teriris begitu rapinya. Ia menaruhnya di pangkuanku, seakan menyuruhku untuk menyantapnya. Aku menyambutnya dengan anggukan kepala dan ucapan terima kasih. “Siapa namamu?” “ Naila, mbak Dewi”
Aku menatap seluruh ruangan kamar suamiku. Semua dindingnya terbuat dari kayu, mungkin kayu mahoni. Kamar yang tampak sederhana dan dari kesederhanaannya aku mulai menyukainya. Seperti kesederhanaan yang dimiliki suamiku yang justru membuatku teramat sangat mencintainya. Aku membuka jendela yang memamerkan pandangan ke arah ladang jagung. “Kapan tekane?” Suara itu membuatku terkejut. Aku menoleh kearah suara itu. “Nembe mawon, pak” jawabku singkat. Kemudian aku beranjak mencium tangannya. Dialah bapak mertuaku. “Malik mana?” “ Ke warung sebelah, pak”. Malik adalah suamiku. Lelaki yang tak sepenuhnya kumiliki. “Ayo kita ngobrol-ngobrol di luar sambil makan siang” Ia pun berlalu. Aku segera menuju meja makan. Makanan sudah tersaji. Aku malu. Sebagai menantu seharusnya aku membantu menyiapkan makanan tetapi aku baru saja di rumah ini dan tentu saja masih merasa kikuk. Suamiku datang. Ia duduk disampingku. Aku melayaninya, mengambilkan nasi dan sayur kangkung serta telur dadar untuknya. Tidak pernah aku membayangkan aku akan melayaninya seperti ini. Andai saja ia menjadi milikku seutuhnya. Selesai makan siang aku beranjak ke kamar suamiku. Aku duduk di depan meja kecil. Aku melirik semangka yang tadi dibawa adik ragil suamiku. Aku merenung, sepertinya tidak ada pekerjaan lain selain menulis sederet puisi di laptopku. Ketika aku mulai berkonsentrasi untuk menjalankan hobiku, suamiku datang menutup mataku dari belakang dengan satu tangan. Aku jengkel dibuatnya. Aku melepaskan tangannya dari mataku perlahan agar tak terlihat kejengkelanku. Aku berbalik ke arahnya. “Tambah ayu yen nesu” “Ah, aku tidak tertarik dengan rayuanmu” batinku kesal. Aku kembali menatap laptop dan menuliskan sesuatu. Suamiku kembali datang dan memelukku dari belakang. Aku menggeliat dibuatnya “ Aku paling tidak suka diganggu saat aku sedang menulis puisi” gerutuku sambil melepaskan pelukannya. Ia menatapku tanpa perasaan bersalah dan tersenyum menggoda. Aku tau apa isyarat itu. Ia senang melihatku sedang marah dan ia tahu aku sangat membenci itu. Tapi Ia tetap melakukan itu agar aku bertambah marah. Ketika ia puas melihatku marah, ia akan mencium keningku untuk meredamkan sedikit amarahku. Dan ia baru saja melakukannya untukku saat ini. “Istirahatlah, kau pasti lelah karena perjalanan dari Solo tadi” aku hanya diam tak menanggapi. Mungkin Ia juga ikut marah melihat tingkahku yang seperti ini. Selalu dingin di hadapannya. Ia beranjak ke arahku. Menyentuh tanganku lembut dari atas keyboard dan mematikan laptopku. Aku menururti nasihatnya. Aku tak ingin membuatnya marah walaupun ia tak pernah marah padaku atau lebih tepatnya menyimpan amarahnya. Ya, sebenarnya aku sangat lelah dan aku mulai terlelap dalam tidurku. *** Suamiku selalu sibuk dengan pekerjaannya di Balai Desa. Sudah tiga tahun ia menjadi Kepala Desa. Sedang mertuaku sibuk bekerja sebagai pedagang dengan membuka kios di pasar.. Hanya aku yang menganggur di rumah. Hm, bukan menganggur, tapi pekerjaanku selama ini hanya menulis. Selama ini puisi dan cerpenku termuat di berbagai koran. Kebiasan menulis sudah kulakoni sejak SD dan tulisanku dimuat koran untuk pertama kali saat SMA. Sejak itu aku semangat menulis hingga waktu kuliah aku berhasil menulis novel yang lumayan laku. Walupun letak Balai Desa tidak jauh dari rumah dan setiap saat suamiku dapat pulang ke rumah, aku selalu merasa rindu padanya.. Sebenarnya aku bosan dengan kehidupanku yang sekarang ini. Betahun – tahun aku hidup seperti ini. Dan selalu seperti ini. Hidupku berkecukupan bahkan bisa dibilang berlebihan tapi kebutuhan batinku tidak sepenuhnya tercukupi. Apakah seperti ini nasib istri kedua?. Kadang aku tak habis pikir betapa bodohnya aku ketika mengiyakan keinginan Malik menjadikanku sebagai istri keduanya. Setelah sarjana, ia mengakhiri hubungan denganku tanpa alasan yang pasti. Dengar-dengar ia mencalonkan diri dalam pemilihan kepala desa dan setelah terpilih ia menikah dengan wanita pilihan orang tuanya. Sejak itu aku tak tahu kabarnya. Tiga tahun kemudian ia mengajakku untuk menikah. Ia mengatakan istri pertamanya tak bisa memberinya anak dan orang tuanya sudah kepingin menimang cucu. Kali ini aku ikut menjaga toko kelontong milik mertuaku. Tanpa sengaja di sudut jalan aku melihat suamiku naik motor memboncengkan seorang wanita cantik. Dialah Anisa, istri pertamanya. Mereka begitu mesra sehingga membuatku iri. Rasa cemburu menerkam ulu hatiku. Memang pahit nasib istri yang menjadi madu. Aku tidak ingin melihatnya. *** Dua tahun aku tinggal di rumah ini. Penantian yang kami tunggu telah lahir. Lama sekali kami menanti bidadari mungil itu. Aku merasakan kebahagian yang amat sangat. Aku merasakan betapa indahnya menjadi seorang ibu. Tapi sayang, aku tidak bisa merasakannya secara utuh. Karena aku harus meninggalkan bidadari mungilku. Bidadariku aku beri nama Anisa Kartika Dewi. Nama itu pantas untuknya. Perpaduan dari nama ku dan nama istri pertama suamiku. Ya, nama yang cantik menurutku. Kedua mertuaku tentu orang yang sangat bahagia karena cucu pertamanya telah lahir. Ia hanya mengharapkan cucunya dariku. Ia membanggakan anaknya yang perkasa. Dan kelahiran Kartika adalah sebagai bukti bagi warga desa kalau anaknya bukan lelaki mandul. Mungkin karena sebab itu aku mulai diacuhkan di keluarga ini. Senyum ramah dari suami juga terasa hambar. Selama ini yang sering menimang bayiku adalah Anisa, bukan aku ibu kandungnya. Di tengah malam aku sempat menangkap pembicaraan antara suamiku dan mertuaku. “ Tugas Dewi sudah selesai. Segera ceraikan dia. Dan rawatlah anakmu dengan Anisa”. Belum pagi benar, suamiku mendatangiku. “Kau ingin menceraikanku sekarang?. Jadi ini balasanmu, setelah kau mendapatkan apa yang kau mau”. “Tinggalkan rumah ini. Bawa Kartika. Nanti aku akan menyusulmu ke Solo. Aku sudah tak ingin lama lagi tinggal di sini” “Kau kan Kepala Desa ?” “Sekarang tidak. Aku mengundurkan diri”. Aku segera berkemas meninggalkan rumah ini. Rumah suami yang ingin kumiliki cinta seutuhnya dan tidak lama lagi keinginanku akan terpenuhi di Solo, di rumahku sendiri. ***** Fatimah Wahyu Sundari, Lahir di Solo, 11 September 1993. Penulis muda yang tinggal di Asrama Brigif 6 /2 Kostrad, Surakarta ini masih sekolah di SMA Al Muayyad Surakarta sekaligus nyantri di Pesantren Al Muayyad Surakarta. Karyanya berupa cerpen dan puisi termuat di Solopos,Joglosemar, Pawon, www.almuayyad.org dan majalah sekolah. Reportase jurnalistiknya dimuat Kompas Muda dan Jawa Pos Radar Solo. Bergiat di komunitas Thariqat Sastra Sapu Jagad, sebuah komunitas di Pesantren Al Muayyad, yang mempunyai Lini Penulisan Kreatif Jurnalistik dan Sastra. |
| Awal |
| Sejarah |
| Visi dan Misi |
| Kepengurusan |
| Tata Tertib |
| Kegiatan |
| IPMA |
| YAMAA |
| Koppontren |
| Radio RAM FM |
| Informasi |
| Jadwal |
| Daftar Online |
| Biaya |
| Santri Baru |
| Data Alumni |