Dukungan

W A    : 0898 999 6464

Telegram : Al-Muayyad
YouTube  : Ayyada TV

IG : almuayyad_solo

Twitter : almuayyad_solo

Online
Kami memiliki 27 Tamu online
Pengunjung
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini608
mod_vvisit_counterKemarin1121
mod_vvisit_counterMinggu ini3534
mod_vvisit_counterBulan ini9374
mod_vvisit_counterTotal13529947
Facebook
Awal Galeri Puisi
Puisi
Sajak-sajak Nina Mazaya
Ditulis oleh Nina Mazaya   
Selasa, 26 Januari 2010 22:24
HUJAN KALI INI

Hujan kali ini
Mengingatkan pertemuan terakhir
Di akhir tahun lalu
Hujan kali ini
Mengajak kita mengenang kembali
Saat kita mencecap manisnya gula asmara
Hujan kali ini
Mengulang janji yang pernah terucap
Menjadi mantra keabadian

Biar seperti ini, sayang..
Hujan di pertengahan bulan kali ini
Membasahi romantisme kisah kita
Biar seperti ini, sayang..
Hujan menyemai benih rindu
Hingga saat kita berjumpa kembali

MENAFSIR TAKDIR

Aku menatap malam
Ah, yang kulihat hanya hitam
Tak ada bintang
Tak ada kawan
Aku berjalan sepi
Ah, yang ada hanya bingung
Tak ada tujuan
Aku tertawa tapi batin menjerit
Aku bosan dengan semua ini
Apa mati yang harus menjadi pilihan

Aku bisa kembali membuka mataku
Memperjuangkan sisa hidupku
Mempertahankan setiap tetes darah mengalir dinadiku
Kuperjuangkan sisa hidupku
Biar rapuh tulang ini
Biar tak berdaya raga ini

Tuhan..,
Berikan nyawa dalam raga dan jiwaku
Izinkah aku menatap hari esok
Menafsir takdir hidup yang Kau bukukan

Nina Mazaya, Siswi SMA Al-Muayyad Surakarta, Jl. KH.Samanhudi No 64, Mangkuyudan Surakarta. Aktif di komunitas Thariqat Sastra Sapu Jagad.
 
Hujan Kali ini (Sajak-sajak Nina Mazaya)
Ditulis oleh Nina Mazaya   
Senin, 25 Januari 2010 22:35
HUJAN KALI INI

Hujan kali ini
Mengingatkan pertemuan terakhir
Di akhir tahun lalu
Hujan kali ini
Mengajak kita mengenang kembali
Saat kita mencecap manisnya gula asmara
Hujan kali ini
Mengulang janji yang pernah terucap
Menjadi mantra keabadian

Biar seperti ini, sayang..
Hujan di pertengahan bulan kali ini
Membasahi romantisme kisah kita
Biar seperti ini, sayang..
Hujan menyemai benih rindu
Hingga saat kita berjumpa kembali

MENAFSIR TAKDIR

Aku menatap malam
Ah, yang kulihat hanya hitam
Tak ada bintang
Tak ada kawan
Aku berjalan sepi
Ah, yang ada hanya bingung
Tak ada tujuan
Aku tertawa tapi batin menjerit
Aku bosan dengan semua ini
Apa mati yang harus menjadi pilihan

Aku bisa kembali membuka mataku
Memperjuangkan sisa hidupku
Mempertahankan setiap tetes darah mengalir dinadiku
Kuperjuangkan sisa hidupku
Biar rapuh tulang ini
Biar tak berdaya raga ini

Tuhan..,
Berikan nyawa dalam raga dan jiwaku
Izinkah aku menatap hari esok
Menafsir takdir hidup yang Kau bukukan

Nina Mazaya, Siswi SMA Al-Muayyad Surakarta, Jl. KH.Samanhudi No 64, Mangkuyudan Surakarta. Aktif di komunitas Thariqat Sastra Sapu Jagad.
 
Jasamu Bunda
Ditulis oleh Ahmad Syafi'i   
Selasa, 22 Desember 2009 17:01
Jasamu Bunda

Jasamu Bunda

 

Keluh pilu tak kau hiraukan

Kening indahmu berucuran keringat yang menetes

Sengat surya serasa sahabat bagimu

Langkahmu tak surut meski awan berkabut


Sepenuh hati kau beri aku cinta

Tanpa harap ganti dariku

Santun sayang membelai indah

Adakah suatu nanti kau lelah?


Ingatkan aku saat nasehatmu mulai kuabaikan

Beri aku cahaya bila gelap menyapa jiwa

Suci jasamu bunda tak sepenuhnya dapat kubalas

Jasamu Bunda

 

*)Ahmad Syafi’i

Kelas X MA Al Muayyad Surakarta, Jl. KH. Samanhudi, 64, Mangkuyudan, Solo 57142.

DIMUAT : SOLOPOS, Minggu, 20 Desember 2009

 

 

 
Sajak Sang Pengembara
Ditulis oleh Miftahul Abrori   
Selasa, 01 Desember 2009 22:40

 

Sajak Sang Pengembara
(Kepada Bunda)

Miftahul Abrori


Tak usah kau hiraukan, kemana kaki kupijakkan
Ketika aku mengembara, Di bumi yang mulai retak
Memanggul pena, memetakan nasib di kertas putih
Berburu takdir yang tak bisa diterka

Maka...
Jika tak kau dapati baktiku padamu
Jangan sesalkan bulir peluh yang mengucur di nadiku
Air susu yang mengalir di darahku

Selama langkahku tak membuyarkan warna pelangi
Biarkan aku mengembara, di bumi yang mulai retak
Tak peduli jejak kaki tinggalkan cerca
Ucap jiwa sisakan kesah
Kutahu doamu selalu membimbingku
Di perantauan ku tak bisa tenang hidup tanpa cintamu
Aku butuh nasehatmu karena perjalananku
Tak sesederhana air yang mengalir
Tak semudah kebetulan

Aku tak ingin seperti layang-layang, menyerah saja dipermainkan angin
Ada cita yang harus dicari
Ada suara yang harus dikabarkan

Surga itu masih di telapakmu
Tangan Tuhan masih di tanganmu
Dan saat aku mengembara, di bumi yang mulai retak
Aku sadar, aku tak bisa berbakti
Mungkin tak sekarang
Entah kapan, aku pun enggan berjanji

Dedicated for my mother and mothers in the world

Bumi Mangkuyudan, Solo, Desember 2008


Dimuat Suara Merdeka, 21 Desember 2008

 
Puisi Untuk Emak
Ditulis oleh Umairotin Ma'wa   


Mak...
Dengarlah nyanyian di perutku
Mengusik tidur
Membelah malam
Jeritan kerongkongku menusuk raga
Jiwaku mulai lapuk
Memimpikan tetes air susumu yang mengkafan

Mak....
Hatiku berkarat
Menahan ludah di wajah
Mendengar lagu hina neraka
Otakku kian mengerut
Memumikan sembilan kakakku yang membatu
Menanam lima adikku yang terkapar membumi


Perempuan Itu Ibuku

Perempuan berbakul di punggung itu Ibuku
Kobaran perjuangannya mendekapku
dalam kekaguman

Perempuan berwajah lesu itu Ibuku
Tiupan kesabarannya mematriku
tegap berdiri

Perempuan berkerut di pipi itu ibuku
Helaan nafasnya mendamaikan
irama hidupku


Umairotin Ma'wa, Lahir di Sukoharjo, 13 Desember 1992.
Mempunyai hobi membaca dan mendengarkan musik.
Alamat rumah JL. Pemuda No.90, RT 03/01 Jetis Polokarti Sukoharjo.
Santri Pesantren Al Muayyad yang juga Siswi SMA Al Muayyad Surakarta

 

Dimuat Buletin Matapena, Jogjakarta Edisi Agustus 2009

 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 Berikutnya > Akhir >>

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL