|
Ditulis oleh al-muayyad
|
|
Rabu, 29 September 2010 09:01 |
|
Cerpen Fatimah Wahyu Sundari
Mulai hari ini aku akan tinggal di rumah ini bersama suamiku. Tak kusangka aku akan tinggal di rumah joglo di pedesaan dengan orang terhangat yang baru kali ini kutemui. Aku merasa asing di rumah ini. Entah mengapa firasatku mengatakan aku tidak akan lama di rumah baruku. Meski sebenarnya aku merasa nyaman di rumah suamiku. Ibu mertuaku mempersilahkanku untuk masuk ke kamar yang terletak di ruangan paling depan. Aku rasa aneh kamar tidur terletak di ruang paling depan. Aku lihat ruang depan atau sebut saja ruang tengah itu terdiri dari dua kamar tidur yang terpisah oleh ruang tamu dan disebelah pojok aku melihat ruang makan. Seorang gadis kecil, kira-kira usia tujuh tahun, datang menghampiriku. Ia membawa segelas minuman dan sepiring buah semangka yang sudah teriris begitu rapinya. Ia menaruhnya di pangkuanku, seakan menyuruhku untuk menyantapnya. Aku menyambutnya dengan anggukan kepala dan ucapan terima kasih. “Siapa namamu?” “ Naila, mbak Dewi” |
|
Selengkapnya ...
|
|
|
Ditulis oleh al-muayyad
|
|
Rabu, 29 September 2010 08:57 |
|
Cerpen Ashfiya Nur Atqiya
”Bagaimana mas, kapan kita nikah?” tanyaku mengurai kekhawatiran. ”Ngapain kamu tanya hal itu? Nikah itu buat orang tambah rekoso!” jawabnya dengan membentakku. Tanpa berpamitan dengan Wisnu, aku meninggalkan rumah kost itu. Di perjalanan aku menangis, aku pulang naik bus umum menuju kostku. Di dalam bus aku bertemu dengan Fikri, teman kerjaku dan ia memilih duduk sebangku denganku. Melihat aku menangis, dia bertanya kepadaku, ”Kenapa kamu, Ra?” Fikri adalah teman dekat antara aku dan Wisnu. Aku pun menceritakan semua apa yang telah terjadi ”Sudahlah Tera. Mungkin Wisnu sedang lelah memikirkan skripsinya atau mungkin dia akan memberimu kejutan, dengan melamarmu mingu-minggu ini mungkin” Aku terdiam akan tetapi bukan mengiyakan ucapan Fikri. ***. |
|
Selengkapnya ...
|
|
Ditulis oleh al-muayyad
|
|
Rabu, 29 September 2010 08:44 |
|
Cerpen Ali Rosyad Mukena yang kujanjikan pada emakku tak dapat aku beriakan kali ini. Waktu seakan mempermainkanku. Kegamangan membujukku. Aku teringat ibuku di kampung yang mungkin menanti kedatanganku di hari lebaran tahun ini. Apakah kerut diwajahnya menandakan kekecewaannya kepadaku?. Kehidupan keras ibu kota menjeratku, memerosokkan ku dalam lubang hitam. Tak ada orang yang dapat menolongku. Aku sendiri yang berusaha untuk lepas dari belenggu ini. Iming – iming kehidupan yang layak dengan bekerja di kota membuat aku ingin merantau meninggalkan kampungku “Aku arep menyang Jakarta mak, aku kepingin kerjo ning kono” “Lha kowe karo sopo ronone le?” “Dengan Karno anaknya Lek Suti. Dia sudah jadi orang sukses sekarang”. “Ojo le., nanti siapa yang akan membantuku mengerjakan sawah peninggalan bapakmu?” “ Pokoknya aku ingin bekerja di Jakarta. Aku ingin seperti Karno yang bisa memperbaiki rumah. Membuat emak bahagia. . Aku ingin kaya mak, ora koyo ngene iki, kere terus, sengsoro terus” *** |
|
Selengkapnya ...
|
|
Ditulis oleh Nina Mazaya
|
|
Minggu, 18 Juli 2010 18:12 |
Saat itu, jangan palingkan wajahmu dari wajahku.Aku tak kuat lagi menahan ini semua. Harus menahan rindu yang akhirnya menjadi luka. Ingin segera kuobati atau malah justru kugaruk saja meski nanti kian parah lukanya. Yang ingin kulakukan sekarang pergi ketempatmu dan menjalin kasih yang lama terputus. Tapi, kau tak pernah memberitahu kemana kau akan pergi. Juga tak pernah kudengar lagi kabarmu semenjak kau meninggalkanku. “Jangan pernah berpaling dariku”. Katamu saat itu. Kau pikir aku sanggup menahan rinduku ini? Tidak. Kali ini tidak. Dan akupun tak mau berpaling. Meski dengan tanpa sepenuh cinta, seorang wanita mencoba mendekatiku dan aku mulai tergoda. Mungkin aku membutuhkannya untuk sekedar melepas dahagaku karena tanpamu. Sungguh aku tak ingin berpaling.
|
|
Selengkapnya ...
|
|
Ditulis oleh Ali Rosyad
|
|
Senin, 25 Januari 2010 22:21 |
|
Cerpen Ali Rosyad Di sudut ruangan itu Ibrahim terus menorehkan tinta, meramu dan memadukan kata menjadi kalimat yang bernas nan mempesona. Ia menulis cerita tentang negeri yang gemah ripah loh jinawi yang kini sedang dirundung duka nestapa. Negeri mereka terkena bencana yang tak tau kapan berakhirnya. Ibra menceritakan realita hidup masyarakat yang selalu menyandang predikat miskin dan berharap segera akan kaya. Dalam tulisannya penulis tua itu selalu berharap semoga negeri ini segera kembali pada kemakmuran yang selalu dinanti – nanti rakyat. Malam kelam sekelam nasib bangsa ini. Hawa dingin terus menelusup dalam relung-relung tulang belulang, semakin dingin seiring hujan yang mengguyur menyisakan lumpur dan sampah yang mengganggu pemandangan. Malam ini bagai bencana yang tak dapat diduga. Hujan tak mau berhenti membawa limpahan sampah yang masuk rumah-rumah warga. Mereka kalang kabut mengetahui air bah yang datang tanpa terduga sebelumnya. |
|
Selengkapnya ...
|
|
|
|
|
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 Berikutnya > Akhir >>
|
|
Halaman 1 dari 2 |